Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Badan Hukum Nomor : J. A. 5/33/18 Tanggal.27-04-1956

 

Sejarah


Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) adalah sebuah organisasi Mahasiswa Ekstra Universitas yang Independen. PMB didirikan pada tanggal 17 Maret 1948 oleh beberapa aktivis mahasiswa waktu itu di ITB dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Bandung(PMIB). Pendiri PMIB diantaranya: Slamet Bratanata (Alm) A. 1947, Soesilo (Alm) A. 1947, Dudu Ardisasmitha (Alm) A. 1947, Saban Ardhisasmita (Alm) A. 1947, S. Boestaman (Alm) A. 1947, Arifin Maulani (Alm) A. 1947, dan Tjatja Hidayat (Alm) A. 1947).

Tujuan didirikannya PMB adalah sebagai berikut:

  • a. Membangkitkan dan memperkekal rasa kekeluargaan di antara anggauta PMB pada khususnya dan Perguruan Tinggi pada umumnya.
  • b. Turut serta dalam mempertinggi derajat masyarakat Indonesia.
  • c. Membangkitkan dan memperbesar rasa tanggung jawab terhadap penyempurnaan Kemerdekaan Nasional.

Sejalan dengan arah Perjuangannya “ikut serta dalam penyempurnaan Kemerdekaan Nasional.” Kemerdekaan Indonesiapun sepenuhnya sudah di akui dunia maka Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Bandung (PMIB) berganti nama menjadi Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Beberapa Tokoh PMB diantaranya: Adnan Buyung Nasution (PMB 1954), Akhmad Bukhari Saleh (PMB 1964), Andi Sahrandi (PMB 1967), Arifin Panigoro (PMB 1964), B.S. Kusmulyono (PMB 1961), Eddy Rachmat (PMB 1971), Erna Witoelar (PMB 1965), Ginanjar Kartasasmita (PMB 1959), Mien Uno (PMB 1957), Noer Mandsjoeriah Surdian (PMB 1951), Panji R. Hadinoto (PMB 1970), Rudi Djamil (PMB 1967), Sarwono Kusumaatmadja (PMB 1962), Siswono Yudohusodo (PMB 1961), Wimar Witoelar (PMB 1963), Rachmat Witolar (PMB 1961), Iwan Abdurahman (PMB 1965), dan lain-lain. PMB bisa bertahan sampai sekarang karena setiap anggota PMB memiliki rasa kekeluargaan yang sangat erat sehingga PMB bisa bertahan sampai sekarang. Sejak berdiri dari tahun 1948, kontribusi PMB kepada masyarakat diantaranya mempunyai satu komisi sekolah mulai 1952, SMA PMB (sekarang SMU PMB) didirikan dengan pimpinan Sdr.Arifin Maulani dan SMP PMB (sekarang SLTP PMB) yang dipimpin oleh Sdr.Bardja. April 1970 didirikan taman PMB sebagai usaha PMB untuk memperindah kota Bandung. PMB juga turut serta menjadi relawan bencana di gempa pangalengan, banjir di balaendah, mengadakan kegiatan donor darah rutin dll. Kalau untuk sesama anggota PMB ada KROEG yaitu pertemuan semua angkatan. Sampai tahun 2010 ada lebih dari 5000 anggota.

 

Sekretariat PMB Tahun 1979

Berikut sejarah singkat PMB sejak tahun 1968.

Alm. HRM Yogie SM adalah tokoh yang besar jasanya

Sekretariat Jalan Merdeka 7 adalah hadiah beliau kepada PMB. Tahun 1968, Ketua Senat PMB, Nuril Yunus Singagerda (alm.), melanjutkan kepengurusan dari Senat 1967 yang diketuai oleh Rahmat Witoelar, dengan Sekretariat di Jalan Ciung Wanara, yang merupakan tanah kosong milik mertua dari Muslimin Nasution. Di tanah kosong itu, Senat 1967 membangun sebuah gubuk sederhana sebagai Sekretariat PMB. Tetapi tepat di akhir masa jabatan Senat 1967 itu, kavling Jalan Ciung Wanara itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Sehingga Senat 1968 menjadi luntang-lantung tidak punya Sekretariat. Ini bukan hal aneh, karena sebelumnya, selama 20 tahun, sejak 1948, semua Senat PMB juga tidak pernah punya Sekretariat, selalu menumpang di rumah siapa saja yang mau meminjamkan alamatnya sebagai alamat PMB. Tetapi Nuril Yunus bertekad bahwa di tahun 1968 itu, ciri-ciri nomaden-nya PMB harus berakhir, dan sibuk lobby ke sana ke mari, mengusahakan alamat tetap bagi PMB.

Kebetulan, Ketua Seksi Keputrian Senat 1968, Herna Pruistina, adalah seorang aktivis mahasiswa yang luas akses-nya ke pejabat-pejabat pemda Jabar dan pemda Bandung. Beliau lalu membuka jalan bagi Ketua Senat untuk menemui Komandan Kodim Bandung, Letkol. Inf. Yogie Suardi Memet, yang di jaman itu sebagai pimpinan militer di suatu wilayah, besar sekali kekuasaannya, jauh lebih berkuasa dari Walikota. Antara lain, Komandan Kodim Bandung berkuasa atas bangunan-bangunan yang disita dalam rangka peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI di tahun 1965. Dan dari Kodim Bandung itulah, pada tahun 1966, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Bandung mendapat gedung bekas sekolah Cina di Jalan Lembong yang kemudian diberi nama Gedung Julius Usman.

Kemudian di tahun 1967, Resimen Mahasiswa Mahawarman mendapat gedung bekas Sekretariat CGMI (organisasi mahasiswa PKI) di Jalan Surapati yang sampai sekarang menjadi Skomen Mahawarman. Di tahun 1968 itulah, Yogie SM, sebagai DanDim Bandung, memberikan gedung Jalan Merdeka 7 kepada Senat PMB yang diwakili Nuril Yunus dan Herna Pruistina. Di jaman itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) terpecah dua, satu pihak di bawah pimpinan Ketua Umum Ali Sastroamijoyo dan Sekretaris Jenderal Surachman berpihak kepada PKI, ketika itu lazim disebut “PNI A-Su”. Sedangkan pecahannya di bawah pimpinan Ketua Umum Osa Maliki dan Sekjen Usep Ranawijaya bersikap anti-PKI, lazim disebut “PNI Osa-Usep”. Setelah peristiwa G-30-S/PKI, PNI A-Su menjadi organisasi terlarang, berserta semua organisasi bawahannya (onderbouw). Salah satu onderbouw PNI A-Su adalah Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), yang mempunyai Sekretariat di Jalan Merdeka 7. Gedung itulah, yang setelah disita Kodim Bandung di tahun 1965, diserahkan kepada PMB di tahun 1968 oleh Komandan Kodim waktu itu, Yogie SM, dan sampai sekarang, 40 tahun kemudian, masih merupakan Sekretariat PMB. Kiranya Allah SWT menempatkan alm. Yogie SM pada tempat yang terbaik di alam baka, mengampuni dosa-dosanya dan membalas amal ibadahnya. Amiiinn…